Home » Catatanku » Strategi Penjajahan Jepang di Indonesia

Strategi Penjajahan Jepang di Indonesia

Jepang, Saudara Tua bangsa Indonesia. Begitulah propaganda yang disebarkan oleh pasukan Jepang saat datang ke Indonesia. Propaganda ini pun berhasil menipu negeri ini sehingga bangsa Indonesia menerima dengan baik kedatangan pasukan Jepang ini. Pertanyaannya adalah mengapa bangsa Indonesia begitu saja percaya dengan propaganda tersebut..?

Jika kita melihat tulisan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah 2, ternyata bukan hanya sebatas slogan ”Saudara Tua” yang berhasil menarik perhatian bangsa Indonesia terhadap Jepang tetapi juga perilaku pasukan Jepang di awal-awal kedatangannya. Sebelum pasukan Jepang datang ke Indonesia, mereka sudah mempelajari karakteristik negeri ini yaitu karakter yang sangat religious dengan Islam sebagai agama mayoritas. Mereka mengetahui besarnya potensi & pengaruh Ulama terhadap umat Islam. Pasukan Jepang mempersiapkan propaganda untuk mengubah opini Ulama dan umat Islam Indonesia agar menaruh simpati kepada kerajaan Shinto Jepang.

Berikut ini beberapa strategi yang dilakukan oleh Jepang, untuk menarik hati umat Islam di Indonesia diantaranya:

  • Pada tahun 1935, di Kobe didirikan masjid yang pertama di Jepang, kemudian disusul pendirian masjid di Tokyo tahun 1938. Lalu pada 5-29 November 1939, Jepang mengadakan Pameran Islam di Tokyo. Sasarannya adalah umat Islam di Indonesia. Oleh karena itu, diundanglah beberapa tokoh Islam dari Indonesia. Seluruh biaya & akomodasi ditanggung oleh pihak panitia. Undangan pameran ini merupakan peristiwa pertama pemindahan pandangan umat Islam Indonesia. Teralihkan dari Timur Tengah ke negeri matahari terbit. Selama di Jepang, para ulama dan pimpinan parpol Islam dilayani dengan sangat terhormat. Sangat jauh dari perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang selalu bersikap menindas Ulama atau pimpinan partai Islam.
  • Mengerahkan beberapa pasukan Jepang untuk sholat berjamaah di masjid. Saat itu, rakyat sangat terkejut, seminggu setelah pendudukan di Jakarta, di Masjid Kwitang hadir tentara Jepang dengan seragam tentara ikut shalat berjamaah. Selanjutnya, diikuti hadirnya Kolonel Horie bersama tentara Jepang yang beragama Islam Muhammad Abdul Munaim Inada yang memberikan pidatonya dalam bahasa Jepang. Walaupun sukar dipahami, tetapi kehadirannya di masjid menjadikan rakyat merasa dekat dengan Jepang.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s